Kamis, 23 Oktober 2008

Sajak Negeri Entah

Sajak Negeri Entah

By Antho M Massardi

Di Negeri Entah

Semua orang kini latah

Bukan hanya lidah

Seluruh organ tubuh sudah menjadi lintah

Bukan hanya mengisap darah

Tanah, air, dan minyak mentah

Kekayaan dan hasil bumi

Keringat dan pendapat, termasuk kehendak rakyat

dirampok, dijarah tanpa menyisakan celah

Tubuh-tubuh berbuih dan berbusa-busa penuh gibah

Setiap orang dari rakyat hingga pejabat

Berjanji dalam kampanye, berputar-putar dan menjilat

Semua partai politik bergagah-gagah

Tak lupa sambil menyumpah serapah

Semua pemimpin terdahulu dianggap salah

Mereka dimasukkan dalam keranjang sejarah

Seakan-akan yang dahulu dan sekarang terpisah wadah

Orang-orang serakah memang salalu pandai berkilah

Padahal sama-sama drakula pengerkah tanah tumpah darah

Di Negeri Entah, semua orang kini berkiprah

Reformasi dan demokrasi dianggap hadiah

Jabatan publik dan otonomi daerah di semua wilayah

Dijarah semua aliran politik secara berjamaah

Alim-ulama dan pejabat telah bejat dan tersesat

Berkhianat dan merampok seluruh tanah ulayat

Merampok rakyat dan menyengsarakan umat

Kesenangat dunia sesaat ditukar akhirat

Nikmat jasmani dianggap rahmat

Sungguh tanda-tanda kiamat sudah dekat

Laknat semakin menjerat rakyat

Tidak dianggap, Tuhan Mahamelihat

Catatan para malaikat pun sangat cermat

Tak ‘kan terlewat setiap perbuatan bejat

Pasti dihisab sangat dahsyat di akhirat

Hanya perbuatan iman dan takwa membawa rahmat

Dunia dan akhirat pasti selamat

Di Negeri Entah, semua orang seakan tampak ibadah

Ketamakan dianggap berkah

Kerakusan dibungkus sedekah

Kebejatan menjadi lumrah

Merusak agama dan ibadah dianggap sunnah

Harta haram jadah korupsi untuk ke Makkah

Pemimpin sesat penghujat al-Quran malah disembah

Di Negeri Entah, semua orang kini terperangah

Menjadi lintah di semua daerah dan wilayah

Ikut memerintah, ikut menjarah, ikut mengisap darah

Tak ada bedanya politisi, ulama, dan pemerintah

Semua mengulang kesalahan sejarah semakin parah

Di Negeri Entah, semua kini sudah menjadi sampah

Tak ada pejabat pemerintah yang merasa bersalah

Tak ada lagi tokoh masyarakat yang merasa terikat sumpah

Setiap orang saling menjarah dan merampok tanah, sawah, upah

Termasuk harga minyak mentah

Mereka lupa bahwa semua amanah Allah

Tak ‘kan luput dibalas jahannam walau seberat zarah

Di Negeri Entah, semua orang kini mendustakan agama

Lalai dari segala ibadah dan perintah Allah

Mengucapkan sumpah yang tidak dikerjakan

Mengumbar janji untuk dinafikan

Mengingkari amal saleh dan pamer sedekah

Menghardik anak yatim, menelantarkan orang miskin

Menganjurkan keburukan, memusnahkan yang halal

Yang haram entah di mana

Negeri-negeri seperti ini sudah banyak dikisahkan dalam Kitab Allah

Mereka dibinasakan dengan segala azab yang menistakan

Mereka dimusnahka dengan air bah atau awan panas

Semoga negeri kita diselamatkan dari semua fitnah

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu

dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku

tidak mengetahui hakekatnya. Dan, sekiranya Engkau

tidak memberi ampun kepadaku

dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku

niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

Amin.

Rempoa, 22 Oktober 2008

Tidak ada komentar: