Jangan Merasa Suci
Oleh Antho M. Massardi
“…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (QS an-Najm [53]: 32)
Banyak di antara kita sering merasa bahwa, selama sudah salat, tidak menyembah selain Allâh; tidak merugikan hak orang lain; mengerjakan yang halal menjauhkan yang haram; membayar zakat, puasa Ramadhan, dan pergi haji bagi yang mampu; menyantuni yatim-yatim, fakir-miskin, guru, dhuafa, dan beramal-saleh sesuai syareat, tak harus repot-repot lagi belajar agama. Bukankah hal itu yang diwajibkan agama kita? Diterima-ditolaknya ibadah kita, biarlah hanya Allâh SWT yang Mahamengetahuinya.
Sehingga, kemudian, kebanyakan dari kita GR, merasa kelak dapat masuk surga, karena sudah banyak melakukan ibadah. Kalau ada dosa terlupakan atau dilupakan, dianggap hal wajar dan manusiawi. Karenanya, kita merasa lebih suci dari orang lain. Misalnya, karena lebih tua, lebih kaya, lebih rajin ibadah, serta lebih-lebih lainnya yang bersifat materi dan duniawi; secara kuantitatif, maka orang lain dianggap kecil. Tentang kesalahan dan dosa? Siapa di dunia ini yang tidak pernah salah? Nabi Adam a.s., Nuh, Musa, Yunus, dan Nabi juga melakukan kesalahan, bermuka masam? Toh, sehabis salat atau berbuat salah selalu istighfar dan mohon maaf bila berhubung dengan manusia?
Apa betul begitu? Siapa yang menjaminnya? Padahal, Allâh-lah yang paling mengetahui tentang orang yang benar-benar bertakwa kepada-Nya. Firman-Nya: “…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa,” (QS an-Najm [53]: 32). Kenapa?
Karena, “Siapa meninggalkan salat hingga terlewatkan waktunya dan dia mengqadhanya, (saja) dia akan disiksa di neraka selama satu huqub, satu huqub sama dengan 80 tahun, dan satu tahun 360 hari. Sedangkan satu hari di akhirat lamanya 1.000 tahun di bumi,” {HR Majalisul Abrar dari Ali bin Abu Thalib, Abu Hurairah, Hilal Hijri, Abdullâh bin Mas’ud, dan Abdullâh bin Umar r.ahm.). Maka, siapakah yang tidak akan masuk neraka? Dan, siapa yang sanggup menerima siksa “kecil” itu di akhirat? Padahal, sepercik saja api neraka bila terinjak akan mendidihkan otak manusia!
Benarkah satu hari di langit adalah 1.000 tahun di dunia? Firman-Nya: “... kemudian malaikat membawa urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya 1.000 tahun menurut perhitunganmu,” (QS as-Sajdah [32]: 5). Juga firman-Nya, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik menghadap kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya di bumi 50.000 tahun,” (QS al-Ma’ârij [70]: 5). Padahal hidup kita di bumi hanya sesaat. “Allâh berfirman: ‘Kamu tidak tinggal di bumi selama itu melainkan sebentar saja, kalau kamu sungguh mengetahui,’” (QS al-Mukminûn [23]: 112-114).
Bayangkan, kalau umur kita sekitar 63 tahun. Kalau skalanya 1 hari akhirat adalah 1.000 tahun bumi, maka di akhirat kita hanya hidup selama 91 menit! Kalau skalanya 1 hari di akhirat adalah 50.000 tahun di bumi, maka kita hanya hidup 111 detik di akhirat! Tidak lebih lama dari laron yang terbang setelah hujan menuju cahaya lalu mati!
Adakah yang masih berani mengabaikan dosa “kecil”? Mengqadha salat tanpa sebab saja dihukum satu huqub, 80 tahun! Bagaimana kalau tidak mengqadha? Kalau meninggalkan satu salat wajib sehari? Kalau seminggu, satu tahun, bahkan seumur hidup? Bagaimana dengan dosa-dosa lain yang kita anggap kecil, yang kita ingat dan lebih banyak lagi yang tidak kita ingat?
Padahal, tak ada dosa seberat zarah pun apalagi sepenuh bumi yang tidak akan diazab di akhirat nanti, kecuali Allâh SWT mengampuni dengan rahmat-Nya. Hanya rahmat-Nya yang dapat memasukkan siapa pun yang dikehendaki-Nya ke surga-Nya. “Ya Allâh, masukkanlah kami ke dalam ridho-Mu dengan rahmat-Mu. Amîn ya Rahmân ya Rahîm!”
Masih adakah yang merasa dirinya suci? Masih adakah yang yakin dapat masuk ke surga-Nya? Wallâhu’âlam.***
Rubkrik Hikmah (2):
Surga, Rahmat Allâh
Oleh Antho M. Massardi
“Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,” (QS al-Baqarah [2]: 25).
Dalam ayat di atas dan dalam banyak ayat al-Quran lainnya disebutkan siapa saja orang-orang yang akan diizinkan-Nya dapat masuk surga. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan malaikat-Nya, mendirikan salat, beramal-saleh, serta percaya kepada al-Quran dan kehidupan akhirat (QS al-Baqarah [2]: 2-5). Namun, surga bukanlah hak hamba, melainkan Hak Allâh. Karena, tidak ada amal apa pun yang dapat memasukkan seorang hamba ke dalam surga, kecuali atas Rahmat-Nya.
Mari kita hayati kutipan hadits qudsi panjang yang diriwayatkan Jabir bin Abdullâh r.a. ini: Ia bercerita, Rasulullâh Saw. keluar menemui kami dan menuturkan, “Baru saja Jibril a.s. keluar dari tempatku. Dia berkata: ‘Hai Muhammad, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya Allâh memiliki seorang abid, hamba yang telah menyembah Allâh selama 500 tahun. Dia tinggal di atas bukit yang panjang dan lebarnya 30 x 30 hasta. Bukit itu dikelilingi lautan seluas 4.000 farsakh (13.000 mil). Bukit itu memiliki mataair sebesar ibu jari yang memancarkan airmurni baginya. Ahli ibadah itu menetap di bawah bukit itu. Untuk keperluan makannya, Allâh menumbuhkan pohon delima yang setiap malam memberinya sebuah yang matang. Hari-harinya dia pakai untuk beribadah. Bila sore tiba dia turun dari bukit dan mengambil wudhu. Kemudian mengambil buah delima itu dan memakannya. Lalu dia salat. Sebelum meninggal dia mohon kepada Allâh agar menyabut nyawanya ketika sedang bersujud dan agar jangan memberi kesempatan kepada bumi atau benda dan makhluk lainnya merusak jasadnya, sampai dia dibangkitkan di hari kiamat nanti dan tetap dalam keadaan bersujud.
Jibril berkata: ‘Maka Allâh mengabulkan permintaannya, kami selalu melewatinya bila kami turun ke bumi dan bila kami naik ke langit. Kami mendapat kabar dalam ilmu Allâh bahwa dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian didudukkan di hadapan Allâh SWT. Allâh berfirman: ‘Masukkanlah hamba-Ku ini ke dalam surga atas berkat Rahmat-Ku’. Si Abid berkata: ‘Tapi ya Rabbi, masukkanlah aku ke dalam surga atas berkat amal perbuatanku’. Allâh berfirman: ‘Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga-Ku atas berkat Rahmat-Ku’. Si Abid berkata lagi karena merasa telah benar: ‘Tapi ya Rabbi, masukkan hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku’.
Allâh SWT. menjelaskan dengan firman-Nya: ‘Timbanglah pada hamba-Ku ini antara nikmat penglihatan yang telah Ku-berikan dengan amal perbuatannya’. Maka didapati bahwa nikmat penglihatan saja telah melampaui ibadahnya selama 500 tahun itu, belum lagi nikmat-nikmat yang lain. Allâh berfirman: ‘Kembalikan dia kepada-Ku!’ Maka dia didudukkan kembali di hadapan Allâh.
Allâh menanyainya: ‘Wahai hamba-Ku, siapakah yang menyiptakanmu dari tidak ada (adam)?’ Abid menjawab: ‘Engkau wahai Tuhanku’. ‘Siapa yang telah memberimu kekuatan untuk melakukan ibadah selama 500 tahun?’ Abid menjawab: ‘Engkau wahai Tuhanku’. ‘Siapakah Dzat yang telah menempatkanmu di bukit yang terletak di tengah-tengah deburan ombak samudera, mengeluarkan airmurni dari celah batu dan air asin, mengeluarkan buah delima setiap malamnya padahal delima hanya berbuah sekali dalam setahun, dan engkau telah meminta-Nya agar menyabut nyawamu saat engkau sedang bersujud dan Dia mengabulkan permintaanmu?’ Abid menjawab: ‘Engkau ya Rabbi!’
Allâh berfirman: ‘Semua itu atas berkat Rahmat-Ku dan dengan Rahmat-Ku pula engkau masuk surga! Sebaik-baik hamba adalah engkau wahai hamba-Ku’. Maka Allâh kembali memerintahkan malaikat Ridwan memasukkannya ke dalam surga,’” (HR Al-Hakim).
Atas dasar hadits qudsi itu pula Rasulullâh saw. pernah mengatakan bahwa, ‘Tidak ada amalan manusia satu pun yang akan membawanya ke dalam surga (menyelamatkannya dari azab Allâh)’. Para sahabat awalun dan utama pun terkejut, gemetar, dan menangis membayangkan nasib junjungannya yang sangat dicintainya melebihi apa pun di bumi ini. Mereka lalu bertanya, ‘Tidak jugakah engkau, wahai Nabiullâh? Tidak jugakah engkau, wahai Rasulullâh. Tidak jugakah engkau wahai Habiballâh?’ Rasulullâh saw. menatap mata mereka satu per satu, dan katanya, ‘Ya… tidak juga aku…’
Para sahabat cemas melebihi kecemasan dalam berbagai medan peperangan atau apa pun, cemas yang tidak pernah mereka alami sebelumnya, mereka menangis. ‘Ya Allâh… tidak juga amalan Nabi saw yang ummi, kekasih-Mu, yang karena cahanya Engkau ciptakan semesta alam? Al-Amin pembawa amanah dan suri teladan sempurna umat manusia yang bahkan Engkau dan para malaikat juga bershalawat kepadanya...?’ Sekali lagi Rasulullâh saw. menjawab, ‘Ya, tidak juga aku. Atas berkat Rahmat-Nya-lah aku hidup, mati, dan masuk ke dalam surga-Nya.’”
Jadi, tidak seorang atau sesuatu pun akan masuk surga selain atas Rahmat dan Karunia-Nya ‘Azza wa Jalla!!
Masih adakah orang yang merasa dirinya dapat masuk surga karena banyak amalannya? Masih adakah yang menyangsikan bahwa, seandainya surga dan neraka itu tidak pernah ada dalam ajaran agama-agama langit, kita tak perlu beribadah menyukuri segala Nikmat dan Rahmat-Nya sehingga dapat menyembah-Nya? (QS adz-Dzâriyât [51 ]: 56). Dan di surga-Nya mendapat kebahagiaan tertinggi berjumpa dan disapa Sang Maharajadiraja Allâh SWT: “Salâmun qaulan min Rabbir-Rahîm. ‘Salam,’ sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Mahapemurah,” (QS Yâsîn [36]: 58). Wallâhu’âlam.***
Antho M. Massardi, 50 tahun, wartawan.
HP: (021) 92410064
Tidak ada komentar:
Posting Komentar