Rabu, 22 Oktober 2008

Renungan 2

Oleh: Antho M. Massardi

Bid’ah

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, dan kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allâh dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allâh mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan, Allâh tidak memberi penunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah [9]: 24).

Tahun ini, persaudaraan Muslimin Indonesia mengalami beberapa guncangan besar, terutama yang berkaitan dengan akidah syahadatain: “tiada tuhan selain Allâh dan Muhammad adalah Rasulullâh”. Beberapa peristiwa tersebut karena ada penganut aliran agama Islam yang mengakui adanya nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebutkan “kepercayaan yang menyimpang dari mindstream pokok-pokok ajaran Agama Islam” atau dengan kata lain “bid’ah”. Di dalam pemerian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) halaman 148, kata bid’ah memiliki tiga arti, yaitu: 1 perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan; 2 pembaruan ajaran Islam tanpa berpedoman pada al-Quran dan al-Hadits; 3 kebohongan, dusta. Secara tersirat, ketiga definisi itulah yang dipakai MUI sebagai kesimpulan dalam beberapa fatwanya tentang aliran “yang sesat dan menyesatkan”. Dalam beberapa hadits popular Rasulullâh Muhammad saw. bersabda: “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka”. Bahkan, Rasulullâh menyebutkan, “Allâh menghalangi tobat ahli bid’ah. Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya panah dari busurnya dan tidak akan kembali sampai mati”.

Banyak ayat dalam al-Quran yang menguatkan hadits dan keputusan MUI tersebut. Di antaranya ayat 24 surat at-Taubah yang dikutip di atas, Allâh menyebutkan mereka sebagai orang-orang fasik karena segala sesuatu yang ada di dunia ini lebih kamu cintai daripada Allâh dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allâh mendatangkan keputusan-Nya”. Betapa kerasnya kecaman Allâh SWT terhadap orang-orang yang ragu-ragu di dalam Islam, dan dengan tegas pula menunjukkan siapa yang benar.

Di dalam surat al-Hujurât, Allâh menerangkan tentang akhlak yang baik yang berhubungan dengan sikap orang Mukmin terhadap Allâh, Nabi Muhammad saw., sikap mereka terhadap saudara-saudara mereka seagama, sopan santun dalam pergaulan antarmanusia, juga sikap orang-orang Mukmin dalam menerima berita dari orang-orang fasik yang mengingkari kenabian. Kemudian surat ini ditutup dengan menerangkan hakekat iman dan keutamaan amal orang-orang Mukmin. Firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang, berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allâh. Mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah: ‘Apakah kamu akan memberitahu Allâh tentang agamamu, padahal Allâh mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu?’ Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu (kepada Nabi Muhammad) dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allâh, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.’ (QS al-Hujurât [49]: 15-17)

Semoga kita termasuk orang-orang Muslim yang mendapat kemenangan besar, sebagaimana yang diharapkan-Nya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allâh dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam,” (QS Ali ‘Imran [3]: 102). “Dan, barangsiapa menaati Allâh dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar,” (QS al-Ahzab [33]: 71). Insya Allâh. ‘Âmîn.

Tidak ada komentar: