Berani Hidup, Siapa Takut!
Oleh Antho M. Massardi
“Allâh, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allâh tanpa izin-Nya. Allâh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allâh melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allâh meliputi langit dan bumi. Dan Allâh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allâh Mahatinggi lagi Mahabesar,” (QS al-Baqarah [2]: 255).
Dengan menyebut nama Allâh yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn. Sungguh, segala pujaan dan pujian dari segenap makhluk ciptaan-Nya hanya layak bagi Allâh, Tuhan semesta alam. Dia-lah yang menyiptakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada. Dia-lah yang mengadakan dan meniadakan, yang memelihara dan memusnahkan seluruh ciptaan-Nya di jagad mikrokosmos dan makrokosmos. Dia terus-menerus menyiptakan segala sesuatu yang baru tanpa pengulangan, secara evolusioner dan revolusioner. Atas kehendak Allâh-lah kehidupan ini ada. Dia-lah yang Mahahidup, yang Mahaberkehendak, dan yang Mahaberdirisendiri.
Apa yang lebih indah, lebih berharga, dan lebih berkah dari kehidupan kita yang telah dianugerahkan dan dikehendaki-Nya? Tidak ada yang paling berharga, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, selain kehidupan. Apa saja yang kita miliki di dunia ini, tidak akan memberi manfaat sedikit pun kalau kita tidak hidup alias mati. Tahta, harta, wanita, keluarga, prestasi, popularitas, sejuta nikmat, atau apa saja kemewahan duniawi yang kita miliki, tidak akan bermanfaat kalau kita mati, bukan? Tidak akan bernilai apa pun dunia ini bagi orang yang jasad, ruh, dan jiwanya sudah terpisah. Tidak ada tempat yang layak bagi orang mati kecuali ia dikubur di liang lahat yang gelap untuk menjadi santapan ulat dan cacing tanah. Hanya tiga bekal yang dapat menyertai orang mati, yakni amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.
Betapa bodoh orang yang tidak berani hidup! Betapa malasnya orang yang tidak mau mengumpulkan ketiga bekal itu selama kita diberi kesempatan hidup di dunia ini.
Nah, untuk memahami apa arti kehidupan ini serta mengumpulkan ketiga bekal menuju kematian dan memasuki dunia keabadian itulah, buku ini dirangkum berdasarkan firman Allâh dalam al-Quran dan teladan kehidupan Rasulullâh Muhammad saw. Kita memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Bersyukurlah umat Islam, hanya dengan mengucapkan Bismillâhir-Rahmânir-Rahîm pada awal setiap perbuatannya yang baik dan mengucapkan Alhamdulillâhi Rabbil’âlamîn pada akhir setiap perbuatannya itu, termasuk ibadah kepada Allâh.
Dengan logika itulah, buku ini dirangkum untuk mengenal Allâh Rabbil ‘Âlamîn, Khalik Langit dan Bumi. Siapakah Allâh yang Mahakuasa itu. Bagaimana dan terbuat dari apa alam semesta ini. Kapan dan mengapa bumi ini diproses berbeda. Kapan dan bagaimana awal kehidupan ini diciptakan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiptakan semua itu. Kapan dan bagaimana manusia diciptakan. Kenapa kita harus bersyukur dan bertakwa kepada Allâh Rabbil ‘Âlamîn. Kenapa manusia harus membaca dengan panca indera dan matahati. Dan seterusnya secara kronologis mengikuti proses penyiptaan alam semesta ini.
Beruntunglah kita sekarang hidup di zaman terang-benderang, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi demikian pesatnya dan canggih. Nyaris tidak ada lagi rahasia alam semesta yang tidak dapat dilacak, asal-usul zatnya maupun waktu terciptanya, di langit maupun di bumi, yang makrokosmis maupun yang mikroskopis. Walaupun, tentu saja, seluruh bukti dan fakta ilmiah tersebut hanya setetes saja dari lautan ilmu Alläh yang Mahamengetahui. Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah Ledakan Besar dalam pemikiran yang menjadi lubang cahaya bagi manusia menuju Dunia Holistik.
Sejak ditemukannya teori Big Bang (Ledakan Besar) pada 1929 oleh astronom terkemuka Edwin Hubble, pandangan manusia akan semesta alam ini makin jelas sebagaimana yang difirmankan Alläh dalam al-Quran, 1.330 tahun sebelumnya. Apalagi, setelah ditemukan bukti-bukti yang mengukuhkan teori Big Bang itu oleh George Gamov (1948) serta oleh peraih Nobel, Arno Penzias dan Robert Wilson (1965), yang menemukan adanya sisa Ledakan Besar berupa gelombang panas (surplus radiasi) yang menyebar ke seluruh alam semesta. Satelit NASA-COBE (Cosmic Background Explorer), menemukan kebenaran bukti itu berupa konsentrasi hidrogen-helium memenuhi angkasa raya. “Maka, apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti minyak (kilapan hidrogen dan helium). Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Mahaagung nama Tuhanmu yang Memunyai Kebesaran dan Karunia,” (QS ar-Rahmän [55]: 37).
Demikian pula tentang awal kehidupan makhluk bumi, yang berkembang dari jasad renik bersel satu (amoeba), lalu berevolusi menjadi beraneka bentuk tetumbuhan dan binatang yang ada pada masa kini. Para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia, telah menggali hampir di berbagai lapisan bumi untuk menemukan dan menyambung keping-keping sejarah kehidupan itu sehingga tersusunlah riwayat peradaban kita sampai hari ini. Bumi kita tercinta ini, ternyata, telah dan akan terus melahirkan tetumbuhan dan binatang yang jumlah keseluruhannya lebih dari dua juta varietas. Semuanya menjadi ada, hidup, dan berevolusi sejak adanya air, udara, dan sinar matahari. Manusia hanyalah satu mata rantai terakhir dari untaian panjang kehidupan itu, alih-alih Rasululläh Muhammad saw. yang menjadi mata rantai atau batu bata terakhir dari 124 ribu untaian bangunan kenabian dan kerasulan.
Maka, tidak akan ada nikmat Tuhan sekecil apa pun yang akan kita dustakan, apabila kita mengetahui betapa dahsyatnya proses kejadian alam semesta ini dengan tujuh lapis langit. Coba perhatikan, nanti akan terbukti, betapa miripnya proses penyiptaan alam semesta itu dengan terciptanya kehidupan di bumi dan dengan proses kejadian manusia, tetumbuhan, dan binatang. Maka, betapa sangat beruntungnya kita diberi kesempatan dan peran dalam kehidupan ini sebagai khalifah-Nya di muka bumi! Maka, berani hidup, jangan takut!
Untuk tidak membuang banyak waktu, mari kita mulai dengan mengenal siapakah Allâh, Tuhan Penyipta Langit dan Bumi.
Allâh Rabbil ‘Âlamîn
“Tuhan, Dia adalah Allâh Rabbil ‘Âlamîn, pemilik 99 Nama Terindah dan Terbaik, Asmâ’ul Husnâ. Maka bermohon dan berserulah kepada-Nya dengan menyebut asmâ’ul husnâ itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran-keesaan-Nya dalam menyebut nama-nama-Nya,” (QS al-A’râf [7]: 180).
Sesungguhnya, segala kebaikan, ilmu, ilham, hikmah, dan kebijaksanaan datang hanya dari Allâh Rabbil ‘Âlamîn, Pemilik Sumber Segala Ilmu Pengetahuan di langit dan di bumi. Allâh memberikan atau tidak memberikan hikmat dan rahmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tidak bergantung kepada apa pun karena Dia-lah tempat segala bergantung. Dia adalah Kehendak-Nya sendiri. Dzat yang mengatur segala urusan makhluk-Nya dari Arsy. Dia-lah penulis setiap peristiwa di Lauh Mahfudz miliaran juta tahun sebelumnya, baik di langit, di bumi, maupun di antara keduanya. Tidak ada sesuatu pun yang tidak diketahui-Nya, di dunia mikrokosmos maupun di jagad makrokosmos, di dunia fisika atau dunia metafisika, gugurnya sehelai daun atau jasad renik bergerak siang atau dalam gelap. Semua ada dalam kendali Kekuasaan-Nya, semua bertasbih dan tunduk patuh kepada perintah-Nya dan kehendak-Nya.
Bedanya, manusia dianugerahi kecerdasan dan akal majemuk, juga kemerdekaan untuk memilih berbuat apa saja, namun dengan itu kita hanya akan memperoleh apa yang diniatkan dan diusahakan. Apa pun yang kita pilih untuk dikerjakan dan diperbuat dalam kehidupan kita di dunia atau di akhirat kelak, itu yang akan kita dapat. Jalan hidup kita, ke mana, kapan, dan sampai di mana tujuan akhirnya, kitalah yang memilihnya: dunia, akhirat, atau dunia dan akhirat.
Tuhan adalah Allâh Rabbil ‘Âlamîn, pemilik 99 Nama Terindah dan Terbaik, Asmâ’ul Husnâ. Maka, bermohon dan berserulah kepada-Nya dengan menyebut asmâ’ul husnâ itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran-keesaan-Nya dalam menyebut nama-nama-Nya.
Allâh Rabbil ‘Âlamîn tidak pernah menyiptakan sesuatu di semesta jagad raya ini dan yang ada pada keduanya, tanpa tujuan. Tidak sesuatu pun yang diciptakan-Nya dengan senda gurau, secara iseng-iseng, atau tanpa maksud. Karena, Dia-lah keseluruhan semesta ini sejak Awal hingga Akhir. Alih-alih sebuah lingkaran, Dia-lah titik Awal dan Akhir kehidupan semesta alam. Dia-lah Pemilik Jangka Kehendak Penyiptaan Kerajaan Langit-Bumi beserta yang ada di dalamnya. Segala sesuatu berawal dari-Nya dan pasti kembali kepada-Nya. Dia-lah Allâh Tuhan yang berhak disembah Alam Semesta. Tuhan yang Mahaesa. Tuhan yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tuhan yang Berdiri Sendiri. Tidak membutuhkan sesuatu karena Dia yang menyiptakan segala sesuatu. Tuhan bukan sesuatu karena Dia-lah Dzat Tunggal, Titik Pusat Jagad Semesta, tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Tidak punya sekutu. Bagi Allâh, kalau Dia menghendaki sesuatu hanya berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah itu. Tidak ada yanga sia-sia.
Allâh, Dia-lah yang Mahapemurah. Yang telah mengajarkan al-Quran. Dia menyiptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar juga menurut perhitungan-Nya. Segala tetumbuhan pun tunduk kepada-Nya. Allâh telah meninggikan langit dan meletakkan neraca keadilan. Dia yang mengajari manusia tentang neraca itu. Menegakkan timbangan dengan adil dan tidak menguranginya. Allâh-lah yang telah meratakan bumi untuk makhluk-Nya. Di bumi kita ada buah-buahan dan pohon kurma yang memunyai kelopak mayang. Juga biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Allâh adalah Dia yang menyiptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menyiptakan jin dari nyala api. Tuhan-lah yang memelihara tempat terbit matahari dan memelihara tempat terbenamnya. Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian bertemu, dan antara keduanya ada batas (tanah genting, air tawar, dan air asin) yang tidak dilampaui masing-masing. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Dan kepunyaan-Nya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Semua yang ada di bumi itu akan binasa, yang tetap kekal adalah Dzat Tuhan yang memunyai kebesaran dan kemuliaan. Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
Dia memerhatikan sepenuhnya kepada manusia dan jin. Dia yang mengizinkan manusia, jika sanggup menembus penjuru langit dan bumi, dengan kekuatan. Dia-lah yang telah membelah langit dengan ledakan besar dan menjadikan hidrogin-helium seperti merah mawar minyak. Maha Agung nama Tuhanmu yang Memunyai Kebesaran dan Karunia.
Allâh sendiri menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia yang berhak disembah, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia yang berhak disembah, Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Beruntunglah kita kaum Muslim, karena sesungguhnya agama yang diridoi di sisi Allâh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka. Celakalah orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allâh itu, maka sesungguhnya Allâh sangat cepat hisab-Nya.
Alläh-lah yang telah menyiptakan langit dan bumi dalam enam masa. Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Hanya Alläh yang Mahasuci, yang menyiptakan dan memerintah semesta alam.
Alläh-lah yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana yang kamu lihat, kemudian menundukkan matahari dan bulan. Semua beredar hingga waktu yang ditentukan. Alläh-lah yang mengurus makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kita meyakini pertemuan dengan-Nya. Alläh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah Ummul-Kitab Lauh Mahfuzh.
Sungguh, hanya Alläh, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Alläh tanpa izin-Nya. Alläh mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang manusia, dan manusia tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Alläh melainkan sedikit sesuai apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Alläh meliputi langit dan bumi. Alläh tak keberatan memelihara keduanya dan apa yang ada antara keduanya dan Alläh Mahatinggi lagi Mahabesar.
Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kita dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kita; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alläh, padahal kamu mengetahui. Dia-lah Alläh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menyiptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.
Sesungguhnya dalam penyiptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Alläh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (dari Ledakan Besar dan kekeringan), dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terada tanda-tanda keesaan dan kebesaran Alläh bagi kaum yang memikirkan. Dzat demikian itu Alläh, Tuhan manusia, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Segala puji bagi Alläh yang telah menyiptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir memersekutukan ciptaan-Nya dengan Sang Penyipta. Tuhan. Padahal, Alläh yang menjadikan bumi tempat berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati, lalu Dia menjadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Dia memberi minum kamu dengan air tawar. Padahal, Alläh telah menjadikan bumi sebagai hamparan, gunung-gunung sebagai pasak, menjadikan kita berpasang-pasangan, menjadikan tidur untuk istirahat, menjadikan malam sebagai penutup, menjadikan siang untuk menyari penghidupan. Alläh juga yang membina di atas manusia tujuh buah langit yang kokoh, dan menjadikan matahari sebagai pelita yang terang, menurunkan air dari awan, supaya tumbuh dengan air itu biji-bijian dan tetumbuhan, hutan-hutan, kebun-kebun yang lebat. Semua itu untuk kesenangan kehidupan dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Maka, apakah manusia tidak memerhatikan unta bagaimana ia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?
Ingatlah ketika Tuhan bersumpah: Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Alläh mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan rugilah orang yang mengotorinya.
Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, dan Dia menyiptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat penunjuk, Dia ciptakan tanda penunjuk itu. Dengan bintang-bintang itulah manusia mendapat penunjuk. Maka apakah Alläh yang menyiptakan itu sama dengan yang tidak dapat menyiptakan apa-apa? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan jika kamu mengitung-itung nikmat Alläh, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alläh benar-benar Mahakaya lagi Mahapemurah.
Dia-lah Alläh yang menundukkan lautan untuk manusia, agar dapat memakan darinya daging ikan yang segar, dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan mutiara yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu menyari keuntungan dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
Siapakah Tuhan alam semesta itu? Dia-lah yang menyiptakan segala sesuatu dari air yang turun dari bawah Arsy-Nya, kemudian mengalir berdampingan dengan rahmat kehendak-Nya hanya dengan berkata “Kun!”. Dan Dia pula yang menyiptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu punya keturunan dan mushaharah—kerabat besan, dan Tuhanmu Mahakuasa. Maka, celakalah manusia yang menyembah selain Alläh, sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat. Sungguh, orang-orang kafir itulah penolong setan untuk berbuat durhaka kepada Tuhan.
Setelah mengetahui sedikit tanda-tanda kekuasaan Alläh, apakah masih ada keyakinan di hatimu bahwa selain Alläh ada tuhan yang lain? Padahal kita tahu bahwa, Tuhan-lah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Alläh yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.
Atau, siapakah yang memimpin manusia dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa pulakah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya berupa air hujan? Apakah di samping Alläh ada tuhan yang lain? Mahasuci Alläh atas apa yang mereka persekutukan itu. Atau, siapakah yang menyiptakan manusia dari permulaannya, kemudian mengulanginya lagi, dan siapa pula yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Alläh ada tuhan yang lain?
Coba perhatikanlah, siapakah yang telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan yang di bumi, semuanya? Itulah rahmat-Nya. Tanda-tanda kekuasaan Alläh kalau kamu berpikir. Bukankah sesungguhnya Alläh yang menyiptakan, membinasakan, dan kuasa pula menghidupkan orang-orang dan segala sesuatu yang sudah mati? Ya, Dia-lah Alläh Tuhan yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
Dalam uraian pada bab-bab di dalam buku ini, kita akan membaca dan mengerti, betapa Mahabenarnya Alläh dalam segala firman-Nya. Kita akan melihat langit yang ada di atas, bagaimana Alläh menyiptakannya dari air, meninggikannya, dan menghiasinya dengan sebuah Ledakan Besar, tapi langit itu tidak retak sedikit pun walaupun terus mengembang sampai detik ini. Langit itu Dia bangun dengan kekuasaan-Nya dan sesungguhnya Alläh benar-benar Mahakuasa. Kemudian Alläh menghamparkan bumi dari Ledakan Besar itu, kemudian meletakkan gunung-gunung yang kokoh dan menghidupkan segala macam tetumbuhan dan binatang yang tidak tampak dan yang tampak indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang mengingat-Nya. Dan, segala sesuatu diciptakan-Nya berpasang-pasangan (sejak dalam bentuk sel) supaya kamu mengingat kebesaran Allah. Seperti itu pulalah terjadinya hari kebangkitan kelak. Dan, Tuhan sedikit pun tidak ditimpa keletihan.
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dia bersama manusia di mana saja kamu berada. Alläh Mahamelihat apa yang kita kerjakan. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Alläh-lah dikembalikan segala urusan. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia Mahamengetahui segala isi hati manusia.
Kita juga akan meyakini bagaimana Alläh menyiptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Dan Alläh menyiptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. Dan Alläh menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan akan mengeluarkan kamu dari tanah pada hari kiamat dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya bagi Alläh sama mudah menyiptakan manusia atau langit. Alläh membinanya, meninggikannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, menjadikan siangnya terang benderang.
Lihat dan perhatikanlah unta bagaimana ia diciptakan. Mahatinggi Alläh. Bagaimana bisa manusia yang diciptakan dari air mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata? Nanti, akan kita lihat betapa ciptaan-Nya tak ada yang sia-sia. Dia menyiptakan binatang ternak untuk manusia; bulunya untuk menghangatkan dan berbagai manfaat, dagingnya sebagian kita makan. Bahkan, kita memeroleh pandangan indah padanya, ketika membawanya ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Sungguh, Tuhanmu benar-benar Mahapengasih dan Mahapenyayang. Dia juga menyiptakan kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan. Alläh menyiptakan juga apa yang kita tidak mengetahuinya. Dan hak Alläh-lah menerangkan jalan lurus di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda kekuasaan Alläh bagi kaum yang memikirkan, bagi kaum yang memahaminya, bagi kaum yang mengambil pelajaran, agar kamu bersyukur. Maka, apakah Alläh yang menyiptakan itu sama dengan yang tidak dapat menyiptakan apa-apa? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.
Namun, hati-hati, karena dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alläh-lah tempat kembali yang baik di surga. “Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa kepada Alläh, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan mereka dikaruniai istri-istri yang disucikan serta keridhaan Alläh. Dan Alläh Mahamelihat hamba-hamba-Nya. Yaitu, orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,’ yaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Alläh, dan yang memohon ampun di waktu sahur,” (QS Ali Imran [3]: 15-17).
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Alläh maka tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sesungguhnya Alläh berbuat apa yang Dia kehendaki.
Alläh-lah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alläh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya berlapis-lapis, Alläh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Alläh yang membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Alläh Mahamengetahui segala sesuatu.
Tidaklah kamu tahu bahwasanya Alläh: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, juga burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara beribadah dan tasbihnya, dan Alläh Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan kepunyaan Alläh-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Alläh-lah kembali semua makhluk. Tidakkah kamu melihat bahwa Alläh-lah yang mengarak awan, mengumpulkan antara bagian-bagiannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, Alläh juga menurunkan butiran-butiran es dari langit, yaitu dari gumpalan-gumpalan awan seperti gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Alläh menggilirkan malam dan siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang memunyai penglihatan. Dan Alläh telah menyiptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Alläh menyiptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Alläh Mahakuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya Dia telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Alläh memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Sesungguhnya yang takut kepada Alläh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang berilmu. Sesungguhnya Alläh Mahaperkasa lagi Mahapengampun. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Alläh dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Dia anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Alläh menyempurnakan pahala manusia dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Alläh Mahapengampun lagi Mahamenyukuri.
Hanya orang-orang berpikir yang berpengetahuan, yang berilmu, yang tidak tuli dan tidak buta telinga dan mata hatinya, dan tidak bodoh yang dapat membaca dan mengerti kalam-Nya yang terbentang seluas semesta jagad raya ini. Maka, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menyiptakan, Dia telah menyiptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (ilmu pengetahuan). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya,” (QS al-‘Alaq [96]: 1-5).
Mari kita lihat, apa dan bagaimana Alläh menyiptakan alam semesta dan segala sesuatu dari air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar